Dengan berbekal bahasa Inggrisnya yang terbatas dan sebuah kamus yang sangat tebal, Sukiyem bermaksud memutuskan hubungan dengan pacarnya seorang bule amerika.
Hi Robbie, with this letter I want to give know you
(hai Robbie, bersama surat ini saya ingin memberitahu kamu)
I WANT TO CUT CONNECTION US
(SAYA INGIN MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA)
I have think this very cook cook
(saya telah memikirkan hal ini masak masak)
I know my love only clap half hand
(saya tahu cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan)
Correctly, I have see you go with a woman entertainment at town with my eyes and head myself
(sebenarnya, saya telah melihat kamu pergi bersama seorang wanita penghibur di kota dengan mata kepala saya sendiri)
You always ask apology back back times
(kamu selalu minta maaf berulang ulang kali)
You eyes drop tears crocodile
(matamu mencucurkan airmata buaya)
You correct correct a man crocodile land
(kamu benar-benar seorang lelaki buaya darat)
My friend speak you play fire
(teman saya bilang kamu bermain api)
Now I know you correct correct play fire
(sekarang saya tahu kamu benar benar bermain api)
So, I break connection and pull body from love triangle this
(jadi, saya putuskan hubungan dan menarik diri dari cinta segitiga ini)
I know result I pick this very correct, because you love she very big from me
(saya tahu keputusan yang saya ambil ini benar, karena kamu mencintai dia lebih besar dari saya)
But I still will not go far far from here
(namun saya tetap tidak akan pergi jauh-jauh dari sini)
I don't want you play play with my liver
(saya tidak ingin kamu main-main dengan hati saya)
I have been crying night night until no more eye water thinking about your body
(saya menangis bermalam-malam sampai tidak ada lagi airmata memikirkan dirimu)
I don't want to sick my liver for two times
(saya tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya)
Safe walk, Robbie
(selamat jalan, Robbie)
Girl friend of your liver
(kekasih hatimu)
Note:
this river I forgive you, next river I kill you !
(kali ini aku maafkan kamu, kali lain kubunuh kau !)
Senin, 2008 April 14
A Letter From A Sick Liver
Sabtu, 2008 April 05
Anestesi Lokal
(Based on A True Story, once upon a time, somewhere in Hasan Sadikin Hospital Bandung)
Biasanya, sehari sebelum operasi, residen anestesi yang bakal operasi besoknya, keliling buat visite ama ko-ass ke pasien yang bakal dioperasi. Sore itu, mereka lagi visite ke pasien, pak Haji yang kaya raya, tapi dari daerah pedalaman, jadi rada-rada kurang info gituh.
Setelah mengevaluasi semua data-data medis, si residen bilang ama ko-assnya. Suaranya pelan-pelan, lebih kayak ngomong ke diri sendiri, “Dek, kondisi pasiennya stabil, jadi kayaknya nggak perlu anestesi umum. Besok kita pake anestesi lokal aja deh.”
Si ko-ass manggut-manggut aja dengan ekspresi yang meyakinkan, padahal ngerti-ngerti nggak-nggak. Mau protes juga nggak bisa alias nggak punya ilmunya. Trus, si residen menyapa Pak Haji, “Assamu’alaikum Pa Haji. Kumaha damang?”
Pak Haji, yang rada-rada nyolot dan agak somse ini bilang dengan logat Sunda yang kental, “Kumaha Dokter teh, namanya juga dirawat di Rumah Sakit, pasti tidak damang atuh…”
Si residen tanpa menggubris bilang ginih, “Pak Haji, kayaknya bapak kondisinya stabil yah, mungkin besok operasinya kita coba pake anestesi yang lokal aja.”
Si Pak Haji makin nyolot, “Dok, buat saya mah, biaya nggak masalah. Saya nggak mau yang lokal-lokal lah. Yang impor aja Dok…. Kalo bisa yang dari Jerman sekalian.”
Read More......Jumat, 2008 Maret 28
Hare geeneeh… (Filosofi Bisnis SINAN, Bagian 3)
Belum pernah direvisi.
(Akhirnya, sempet lagi nulis. Sorry nih, baru bisa nerusin tulisan yang kemarin).
Assalamu'alakum wr.wb.
Pertanyaan terakhir:
Ada nggak petunjuk buat bisnis, yang kalo kita pake secara konsisten, dijamin kita bakalan berhasil dalam bisnis?
Ada nggak pedoman dalam bisnis, yang kalo kita ikutin, dijamin kita bakalan jadi pengusaha yang sukses?
Jawabannya:
Tergantung definisi pengusaha yang sukses.
Kalo setuju ama tulisan saya sebelumnya, bahwa pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang bisnisnya bisa membawanya masuk ke dalam surga, menurut saya sih ada.
“Kitab ini (Al-Qur’an), tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” Al-Baqarah 2:2
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan sebagai pembeda.” Al-Baqarah 2:185.
Maksudnya petunjuk buat orang berbisnis itu ada di Qur’an dan Sunnah gituh?
(Pembaca: “He, he, he…. Lucu juga nih orang…”)
Nggak becanda kok. Logikanya begini:
1. Pengusaha yang sukses itu, pengusaha yang bisnisnya bisa membawa dia masuk surga.
2. Kalo mau masuk surga, kita kan kudu kembali ke Qur’an dan Sunnah.
3. Jadi, kalo pengen jadi pengusaha sukses, kita juga harus kembali ke Qur’an dan Sunnah.
Gitu aja kok.
Mungkin ada yang nanya:
Logikanya sih setuju…
Kalo dalam masalah ibadah & muamalat, oke lah, semua petunjuk emang tersedia di Q & S.
Kalo dalam masalah pernikahan & keluarga, oke lah, semua ada di Q & S.
Kalo dalam masalah dakwah & politik, oke lah, Q & S bisa jadi pedoman.
Bahkan dalam masalah pendidikan & sosio ekonomi, emang lengkap di Q & S.
Hare geeneeh, bisnis kembali ke Qur'an dan Sunnah?
Di tengah-tengah begitu banyak buku-buku bisnis, manajemen, pemasaran dlsb.
Emang ada ayatnya atau hadistnya yang ngasih petunjuk buat pengusaha?
Ada dong....
Nanti deh, kita ngobrol-ngobrol lagi…
Wallahu’alam bishowwab.
”Dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) Alkitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl 16: 89)
Minggu, 2008 Maret 09
Pengusaha Sukses (Filosofi Bisnis SINAN, Bagian ke-2)
Assalamu’alaikum wr.wb.
Pertanyaan terakhir yang belum sempet dijawab di filosofi bisnis SINAN bagian ke-1:
Emang nggak ada pedoman yang pasti biar bisnis yang kita rintis nggak akan gagal ?
Emang nggak ada petunjuk yang bisa dipegang biar pasti jadi pengusaha sukses?
Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, kita harus menyamakan persepsi, definisi, ataupun pengertian dulu dari “pengusaha sukses”. Apa sih yang dimaksud dengan pengusaha yang sukses itu?
Ada yang punya jawaban?
Coba kita daftar alternatif jawabannya, misalnya aja ada lima pengusaha yang udah lumayan sukses. Menurut:
Pengusaha A: Pengusaha sukses adalah pengusaha yang sudah berhasil mencapai laba bersih 1 juta dolar pertamanya (first million dolar, jadi sekitar Rp 9-10 milyar), jadi sudah bisa disebut sebagai milyuner. Dia pun mampu mempertahankan asetnya, bahkan membukukan laba jutaan dolar berikutnya dengan gemilang.
Pengusaha B: Pengusaha sukses adalah pengusaha yang sudah berhasil membuat bisnisnya bekerja untuk dia, jadi dia sudah mendapat pasif income yang signifikan, tanpa harus bekerja lagi, bahkan mampu untuk pensiun dini. Jadi dia bekerja bukan karena butuh uang, tetapi karena dia mencintai dan memiliki passion terhadap bisnis/pekerjaannya.
Pengusaha C: Pengusaha sukses adalah pengusaha yang sudah berhasil masuk daftar Forbes untuk 500 orang terkaya, minimal di negerinya sendiri. Dia dan kisah suksesnya pun telah menjadi sumber inspirasi bagi begitu banyak calon-calon pengusaha lain mencapai kesuksesan yang sama.
Pengusaha D: Pengusaha sukses adalah pengusaha yang bisnisnya berhasil membuka lapangan kerja bagi ratusan ribu orang, meningkatkan kesejahteraan jutaan orang, dengan produk/jasa yang dikelolanya mampu memberikan manfaat besar bagi umat manusia, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Pengusaha E: Pengusaha sukses adalah pengusaha yang berhasil mendapat nobel perdamaian ataupun nobel ekonomi karena kesuksesan dan jangkauan dari bisnisnya telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan umat manusia.
Ada lagi definisi, pengertian, atau persepsi yang laen?
Atau ada yang punya pe ngertian yang rada-rada jauh dari daftar jawaban di atas ?
Ada nggak ?
Saya punya.
Malah saya pikir jawaban di atas sama sekali tidak mewakili definisi saya mengenai pengusaha sukses. Definisi saya lho, terserah kalo yang laen sudah cukup puas dengan lima jawaban dari kelima pengusaha di atas.
Buat saya, definisi pengusaha sukses itu berhubungan dengan tujuan seseorang ketika dia memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha. Jadi tujuan utama dari:
Pengusaha A: Ingin menjadi milyuner dan membukukan bermilyar-milyar lagi.
Pengusaha B: Ingin pensiun dini, mendapat pasif income yang luar biasa.
Pengusaha C: Ingin masuk daftar orang terkaya Forbes
Pengusaha D: Ingin membantu jutaan orang dengan bisnisnya
Pengusaha E: Ingin mendapat hadiah nobel karena kontribusi bisnisnya bagi umat manusia.
Kalo saya sih, karena tujuan utama saya sederhana, cuma masuk surga, that’s all, maka buat saya, pengusaha yang sukses adalah: pengusaha yang masuk surga.
Jadi buat saya, pengusaha sukses adalah pengusaha yang bisnisnya bisa membawanya masuk ke dalam surga. Itu aja, yang laen sih nggak terlalu penting.
Kalo ternyata bisnis saya bisa membawa saya masuk surga, saya sih nggak nolak kalo ternyata ditakdirkan jadi milyuner, dapet pasif income, masuk daftar Forbes orang paling kaya, bisa membantu ratusan juta orang, bisa dapet hadiah nobel. Tapi kalo pun saya nggak dapet semua itu, nggak masalah. Yang penting sih, bisnis saya bisa membawa saya masuk surga. Titik.
Ada yang kurang setuju?
Mungkin ilustrasi ini bisa sedikit membantu.
Tau Warren Buffet ? Sekarang kan doski jadi orang paling kaya di dunia. Kekayaannya aja mencapai 62 milyar dolar (bukan jutaan dolar lagi, milyaran dolar Man). Trus kalo dia mau pensiun pun, pasif income-nya dari saham Berkshire Hathaway luar biasa lho. Udah jelas-jelas dia masuk urutan pertama daftar Forbes, bukan hanya di negaranya Amerika, di seluruh kolong langit Coy. Dengan bisnisnya pun, dia telah membantu begitu banyak umat manusia, menjadi inspirasi jutaan orang, bahkan beliau pernah menyumbang lebih dari 30 milyar USD (yang sampai saat ini mungkin merupakan sumbangan terbesar dalam sejarah umat manusia). Kayaknya sebentar lagi juga bisa dapet hadiah nobel. Kurang sukses apalagi?
Tapi bayangin ketika dunia udah kiamat, pas kita lagi ngantri di padang Mahsyar, trus tanpa sengaja kita liat Warren Buffet. Eh, trus kita mikir, “Eh, itu kan Om Warren.” Tadinya mau minta tanda tangan, tapi karena lagi sibuk mikirin diri sendiri dan dosa-dosa kita yang mau dihisab, jadinya mana sempet deh.
Ternyata si Om Warren Buffet teh sedang ikut antrian sama begitu banyak orang. Pas kita liat, ujung antriannya tidak lain dan tidak bukan adalah neraka Jahanam. Waaaahhhh…..
Kalo ternyata kayak gitu, masih mau bilang beliau pengusaha sukses?
Jadi, kalo menurut saya, sukses tidaknya pengusaha itu diliatnya bukan sekarang di dunia, tapi nanti di akherat.
Jadi kembali ke pertanyaan di awal tulisan tadi :
Emang nggak ada pedoman yang pasti biar bisnis yang kita rintis nggak akan gagal ?
Emang nggak ada petunjuk yang bisa dipegang biar pasti jadi pengusaha sukses ?
Kalo gitu, biar jadi pengusaha sukses, yang bisnisnya bisa membawa kita masuk surga, pedoman dan petunjuknya apa dong ? Apa kalo jadi pengusaha yang pengen masuk surga, bisnisnya nggak akan pernah gagal ?
Nanti deh ngobrol-ngobrol lagi.
Wallahu’alam bishowwab.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Rasul Saw berpesan, "Aku tinggalkan bagi kamu 2 perkara, kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang pada 2 perkara itu, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-nya."
Sabtu, 2008 Maret 08
Takut Miskin (Filosofi Bisnis SINAN, Bagian 1)
Kesimpulan tiga tulisan sebelumnya (Kenapa Milih Bisnis bagian 1, 2, dan 3):
1. Kalo mau jadi orang kaya, lebih gampang kalo jadi pengusaha.
2. Kalo mau masuk surga, lebih gampang kalo jadi orang kaya.
3. Jadi kalo jadi pengusaha, lebih gampang masuk surga.
Trus, semua orang yang masuk daftar orang terkaya semua negara di dunia, 99%-100% nya pengusaha.
Trus, secara tidak langsung Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk bisnis gitu loh, lewat pesannya:
"Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki." (HR Ahmad).
Tapi kenapa sebagian besar orang malah nggak mau jadi pengusaha ?
Kenapa kebanyakan orang malah maunya jadi pegawai atau self-employed aja.
Kenapa lebih dari 90% orang lebih suka kerja ama orang laen, nerima gaji yang jumlahnya tidak banyak bertambah dari bulan ke bulan.
Aneh kan?
Kenapa yah?
Mungkin, pertama ini. Kalo merintis usaha/bisnis itu jauh lebih sulit dibandingkan mencari kerja. Kalo cari kerja kan tinggal ngirim lamaran, dengan modal ijazah bisa daftar ke mana-mana. Gaji bisa disesuaikan lah, yang penting kan dapet posisi dulu. Biarin lah nggak sesuai ama bidangnya juga, yang penting ada pegangan sementara. Nggak masalah kok nggak sesuai minat juga, yang penting tuntutan dari orang tua atau keluarga di rumah bisa diakomodasi. Oke aja dapet posisi yang kurang strategis, kan nanti bisa merintis ke jabatan yang lebih serius. Kalo dokter/profesional laen, bisa praktek dulu deh. Modal stetoskop, pasien baru do-re-mi, yang penting ngerintis dulu. Lama-lama juga pasiennya tambah banyak. Yang penting tiap bulan ada pemasukan yang tetap dulu deh.
Tapi kalo ngerintis usaha kan harus nyari modal dulu, harus bisa milih lokasi yang tepat, harus survey peluang bisnis, harus konsultasi ama orang yang udah pengalaman, harus evaluasi kompetitor dulu, harus nyari pegawai yang tepat, harus bikin estimasi pemasukan-pengeluaran ama BEP, dsb-dsb. Itu pun belum tentu untung. Mungkin bulan-bulan pertama masih harus nombokin dulu. Mungkin baru setelah 6 bulan, uang masuk bisa seimbang ama uang keluar. Itu juga kalo lancar.
Gimana kalo bisnisnya gagal. Boro-boro ada pemasukan, malah duit pinjeman modal ludes nggak berbekas. Boro-boro dapet pemasukan rutin bulanan, yang ada pengeluaran rutin bulanan. Apa kata orang rumah? Gimana tanggung jawab kita sebagai kepala keluarga? Wah, sulat lah, eh, susih deh, eh sulit dan susah dong.
Mendingan kerja dulu deh, biar ada pegangan dulu, biar ada tabungan dulu, biar ada uang dingin dulu, baru bisnis sambil tetep kerja. Ini baru aman.
Trus mungkin, yang kedua ini. Bisnis itu, kalaupun udah mulai jalan lancar, kan terlalu sulit diprediksi. Kalo jadi pegawai kan gampang. Yang penting masuk kerja tiap hari, yang pasti kerjanya harus bener, yang penting bos ama atasan di kantor puas. Kalo udah gitu, pasti deh gaji ama seluruh tunjangan dibayarin. Kalo perusahaannya bangkrut, kan tinggal nyari kerja lagi. Malah nyari kerja kedua lebih gampang, kan udah punya pengalaman kerja. Kalo jadi dokter, yang penting praktek tiap hari, ramah ama pasien, banyak baca kalo nemu kasus susah, pasti nanti pasiennya bakalan tambah banyak. Bisa diprediksi lah.
Tapi kalo bisnis kan terlalu banyak faktor yang mempengaruhi. Gimana kalo harga-harga naik. Gimana kalo suplai bahan macet, bandara banjir, BBM naek, keluar perpu/UU baru yang tidak kondusif terhadap iklim usaha, pegawai korup dan nggak jujur, yang punya kontrak tempat usaha nggak mau diperpanjang, alat-alat rusak, bahan-bahan kadaluarsa, manajer sakit, ada saingan baru di seberang jalan, dll-dll. Pokoknya begitu banyak faktor yang harus diperhitungkan dan begitu banyak faktor yang kadang sulit diprediksi.
Makanya, mendingan kerja dulu deh, biar ada pegangan dulu, biar ada tabungan dulu, biar ada uang dingin dulu, baru bisnis sambil tetep kerja. Ini baru aman.
Trus mungkin, yang ketiga ini nih. Emang sih beberapa pengusaha itu kaya, sukses, duitnya banyak, mobilnya bagus-bagus, rumahnya mewah. Tapi kayaknya yang kayak gitu kan cuma minoritas aja deh. Lebih banyak pengusaha yang biasa-biasa aja tuh, yang penghasilan bulanannya sama aja sama pegawai. Malahan banyak manajer atau pegawai level tinggi, dokter, pengacara, akuntan, dan employee atau self-employed laen yang gajinya dua tiga kali lipet pendapatan seseorang yang menyebut dirinya pengusaha. Kadang jam kerja si pengusaha yang biasa-biasa aja ini bisa jauh lebih banyak dari jam kerja pegawai/self-employed pada umumnya.
Belum lagi nggak sedikit pengusaha yang bangkrut, dikejar-kejar debt collector, bisnisnya gagal, usahanya harus mulai dari nol lagi, dsb.
Jadi kenapa harus jadi pengusaha?
Ya tadi:
1. Kalo mau jadi orang kaya, lebih gampang kalo jadi pengusaha.
2. Kalo mau masuk surga, lebih gampang kalo jadi orang kaya.
3. Jadi kalo jadi pengusaha, lebih gampang masuk surga.
Tapi kenapa atuh pada nggak mau jadi pengusaha?
Kayaknya kebanyakan orang nggak mau jadi pengusaha karena nggak ada jaminan buat sukses. Nggak ada petunjuk atau pedoman yang kalo dipake dan dipegang sama seseorang yang mau bisnis, dijamin bisnisnya nggak akan pernah gagal.
Iya gituh ?
Kan banyak buku-buku manajemen, kisah sukses pengusaha beken, kiat-kiat bisnis yang berhasil, pesan-pesan dari motivator ulung, trainer top, pembicara sukses, dsb-dsb.
Tapi kalo semua buku itu dibaca, semua ceramah itu didengerin, bisnisnya dijamin sukses gituh?
Jadi bingung nih.
Emang nggak ada pedoman yang pasti biar bisnis yang kita rintis nggak akan gagal ?
Emang nggak ada petunjuk yang bisa dipegang biar pasti jadi pengusaha sukses?
Nanti deh, kapan-kapan ngobrol-ngobrol lagi.
Wallahu’alam bishowwab.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
”Dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) Alkitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl 16: 89)
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh (obat) bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus 10: 57)
.jpg)